novusautoglassstl – Perdebatan mobil ICE vs mobil listrik sering terjebak pada satu klaim: mobil listrik jauh lebih murah digunakan karena tidak perlu membeli bensin. Pernyataan itu memang benar dari sisi biaya energi, tetapi belum tentu benar ketika seluruh biaya kepemilikan dihitung.
Mobil listrik tidak membutuhkan oli mesin, memiliki lebih sedikit komponen bergerak, dan biaya pengisian daya di rumah umumnya jauh lebih rendah dibandingkan membeli BBM. Namun, ada faktor lain yang tidak bisa diabaikan, mulai dari depresiasi harga kendaraan, asuransi, ban, biaya pemasangan charger, hingga nilai jual kembali.
Pertanyaan yang lebih relevan bukan sekadar apakah mobil listrik lebih hemat, melainkan berapa kilometer penggunaan per bulan yang membuat perpindahan dari mobil bensin ke mobil listrik layak secara finansial?
Untuk menjawabnya, perbandingan harus menggunakan harga beli kendaraan yang sama, periode kepemilikan yang sama, serta memperhitungkan biaya yang benar-benar dikeluarkan pemilik.
Mobil ICE vs Mobil Listrik dengan Harga Beli Sama
Dalam simulasi ini, mobil ICE atau internal combustion engine dibandingkan dengan mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV).
Keduanya diasumsikan memiliki harga beli Rp300 juta dan digunakan selama lima tahun. Dengan demikian, perbedaan biaya awal kendaraan tidak menjadi faktor utama.
Meski begitu, harga yang sama tidak selalu berarti kemampuan, ukuran kabin, atau kenyamanan kedua mobil identik.
Faktor tersebut tetap perlu dipertimbangkan, terutama jika mobil digunakan sebagai kendaraan utama keluarga.
Simulasi Biaya BBM dan Listrik per Kilometer
Harga energi menjadi faktor paling mudah dihitung dalam perbandingan mobil ICE vs mobil listrik.
Berdasarkan harga November 2026, Pertamax berada di kisaran Rp15.950 per liter untuk wilayah Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Sementara itu, tarif listrik rumah tangga nonsubsidi PLN untuk daya 3.500–5.500 VA sebesar Rp1.699,53 per kWh.
Untuk simulasi, mobil bensin diasumsikan memiliki konsumsi 14 km per liter. Mobil listrik menggunakan energi 15 kWh per 100 km, dengan tambahan kehilangan energi pengisian daya sekitar 12%, sehingga listrik yang dibeli dari PLN menjadi 16,8 kWh per 100 km.
| Komponen | Mobil ICE | Mobil Listrik |
|---|---|---|
| Harga beli | Rp300 juta | Rp300 juta |
| Konsumsi | 14 km/liter | 16,8 kWh/100 km dari PLN |
| Harga energi | Rp15.950/liter | Rp1.699,53/kWh |
| Biaya energi per km | Rp1.139 | Rp286 |
| Biaya energi per 1.000 km | Rp1.139.286 | Rp285.521 |
Artinya, mobil listrik menghemat sekitar Rp854 per kilometer hanya dari biaya energi.
Pada jarak 1.000 km per bulan, penghematan mencapai sekitar Rp854.000. Jika mobil digunakan 2.000 km per bulan, penghematan energi meningkat menjadi sekitar Rp1,71 juta.
Namun, angka tersebut belum memperhitungkan perawatan, depresiasi, asuransi, pajak, dan infrastruktur pengisian daya.
Berapa Kilometer per Bulan agar Mobil Listrik Worth It?
SIMULASI TITIK IMPAS KEPEMILIKAN 5 TAHUN
Selisih depresiasi EV Rp30 juta
614 km
per bulan untuk impas
Selisih depresiasi EV Rp50 juta
965 km
per bulan untuk impas
Angka tersebut menggunakan asumsi penghematan perawatan bersih Rp100 per kilometer untuk mobil listrik, biaya pemasangan charger Rp5 juta, serta tidak ada perbedaan biaya tetap lainnya.
Dengan demikian, penghematan operasional mencapai sekitar Rp954 per kilometer. Jika mobil listrik mengalami depresiasi tambahan Rp30 juta dibandingkan mobil bensin, ditambah biaya charger Rp5 juta, pemilik perlu menempuh sekitar 36.700 km selama lima tahun atau 614 km per bulan agar total biaya kepemilikannya setara.
Namun, ketika selisih depresiasi meningkat menjadi Rp50 juta, titik impas naik menjadi sekitar 965 km per bulan.
Simulasi Penggunaan 500 hingga 3.000 Km per Bulan
Keuntungan bersih mobil listrik setelah 5 tahun
Asumsi depresiasi EV lebih besar Rp30 juta, charger Rp5 juta, dan penghematan operasional Rp954/km. Nilai positif berarti EV lebih hemat.

Grafik memperlihatkan bahwa semakin tinggi penggunaan bulanan, semakin besar peluang mobil listrik mengungguli mobil bensin dari sisi biaya kepemilikan.
Pada pemakaian 500 km per bulan, penghematan energi dan perawatan belum cukup menutup depresiasi tambahan dan biaya charger dalam lima tahun. Namun, pada 1.500 km per bulan, keuntungan bersih simulasi sudah melampaui Rp50 juta.
Mengapa Depresiasi Bisa Mengubah Hasil?
Depresiasi merupakan penurunan nilai kendaraan seiring waktu. Biaya ini sering tidak terasa karena pemilik tidak mengeluarkan uang setiap bulan, tetapi dampaknya muncul ketika kendaraan dijual.
Pasar mobil listrik bekas di Indonesia masih berkembang. Pembaruan model, perubahan harga mobil baru, kekhawatiran terhadap kesehatan baterai, dan keterbatasan pembeli dapat memengaruhi nilai jual kembali.
Karena itu, perhitungan mobil ICE vs mobil listrik yang mengabaikan depresiasi berisiko menghasilkan kesimpulan terlalu optimistis.
Laporan industri menunjukkan bahwa nilai jual kembali kendaraan listrik dapat sangat bervariasi. Beberapa model mengalami penurunan harga tajam, sementara model lain mungkin lebih stabil.
Tidak tepat menggunakan satu angka depresiasi untuk semua merek dan tipe kendaraan.
Kalkulator Mobil ICE vs Mobil Listrik: Hitung Titik Impas Sesuai Penggunaan
Perbandingan tidak harus bergantung pada asumsi umum. Konsumsi BBM, efisiensi mobil listrik, harga energi, dan selisih depresiasi dapat diubah untuk mengetahui kapan EV mulai menguntungkan.
Jarak tempuh per bulan
1.200 km
Harga BBM (Rp/liter)Efisiensi ICE (km/liter)Tarif listrik (Rp/kWh)EV (kWh/100 km dari PLN)Biaya charger (Rp juta)Penghematan servis (Rp/km)Masa kepemilikan (tahun)
5 tahunDepresiasi tambahan EV (Rp juta)
30 juta
Titik impas EV
612 km
per bulan
Keuntungan bersih EV
Rp34 jt
selama 5 tahun
Biaya energi ICE/bulan
Rp1.367.143
Biaya listrik EV/bulan
Rp342.625
Pada jarak tempuh ini, EV lebih ekonomis berdasarkan asumsi yang dimasukkan.
Model sederhana, bukan proyeksi harga jual kembali yang pasti. Selisih pajak, asuransi, bunga kredit, biaya ban, dan biaya pengisian di SPKLU belum dihitung secara terpisah.
Bagaimana Jika Mobil ICE Menggunakan Pertalite?
Perhitungan berubah cukup besar ketika mobil bensin menggunakan Pertalite Rp10.000 per liter, bukan Pertamax Rp15.950.
Dengan konsumsi 14 km per liter, biaya bensin turun menjadi sekitar Rp714 per kilometer. Sementara itu, biaya listrik tetap sekitar Rp286 per kilometer.
Selisih biaya energi kini hanya Rp429 per kilometer, jauh lebih kecil daripada selisih Rp854 pada perbandingan menggunakan Pertamax.
Jika penghematan perawatan tetap diasumsikan Rp100 per kilometer, total penghematan operasional EV menjadi sekitar Rp529 per kilometer.
Dengan tambahan depresiasi Rp30 juta dan biaya charger Rp5 juta, titik impas meningkat menjadi sekitar 1.103 km per bulan untuk masa kepemilikan lima tahun.
Artinya, pilihan jenis BBM dapat mengubah keputusan ekonomi secara signifikan. Mobil bensin yang irit dan menggunakan BBM lebih murah akan lebih sulit dikalahkan oleh mobil listrik dari sisi total biaya.
Namun, perbandingan harus tetap realistis. Mobil yang secara teknis membutuhkan bensin dengan oktan lebih tinggi tidak seharusnya dipaksa menggunakan BBM yang tidak sesuai hanya untuk membuat perhitungan terlihat lebih hemat.
Biaya Servis Mobil Listrik Tidak Selalu Nol
Mobil listrik tidak memerlukan penggantian oli mesin, busi, atau sejumlah komponen mekanis yang lazim ditemukan pada mobil ICE.
Kondisi ini dapat menekan biaya perawatan rutin, terutama ketika kendaraan telah menempuh jarak tinggi.
Tetapi mobil listrik tetap membutuhkan perawatan ban, rem, sistem pendinginan, suspensi, filter kabin, dan komponen kelistrikan.
Bobot kendaraan, karakter torsi, ukuran ban, serta gaya mengemudi juga dapat memengaruhi biaya penggantian ban.
Karena itu, klaim bahwa mobil listrik tidak membutuhkan biaya servis merupakan penyederhanaan yang menyesatkan.
Apakah Baterai Harus Diganti Setelah Lima Tahun?
Tidak ada ketentuan universal bahwa baterai mobil listrik harus diganti setelah lima tahun.
Degradasi baterai dipengaruhi banyak faktor, termasuk temperatur, kebiasaan pengisian, pola pemakaian, dan sistem manajemen baterai kendaraan.
Garansi baterai dari produsen dapat mengurangi risiko tertentu, tetapi cakupan dan persyaratannya berbeda antarprodusen.
Dalam perhitungan biaya kepemilikan, risiko baterai perlu dilihat bersama kondisi garansi, riwayat penggunaan, dan kemungkinan penurunan nilai jual kendaraan.
Mengasumsikan seluruh mobil listrik pasti harus mengganti baterai setelah beberapa tahun sama tidak akuratnya dengan menganggap baterai tidak pernah mengalami degradasi.
Charging di Rumah atau SPKLU, Mana Lebih Menguntungkan?
Keunggulan ekonomi mobil listrik paling mudah diperoleh ketika pemilik memiliki akses pengisian daya di rumah.
Tarif listrik rumah tangga biasanya lebih rendah daripada biaya pengisian cepat komersial, meskipun harga akhir juga dipengaruhi golongan pelanggan dan biaya terkait.
Pengisian di rumah juga mengurangi kebutuhan perjalanan khusus ke stasiun pengisian.
Sebaliknya, pemilik yang sepenuhnya bergantung pada SPKLU harus memperhitungkan tarif layanan, waktu tunggu, lokasi, dan kemungkinan biaya tambahan.
Ketika Tidak Memiliki Garasi atau Charger Pribadi
Mobil listrik masih mungkin digunakan tanpa charger rumah, tetapi perhitungan ekonominya perlu disesuaikan.
Jika biaya pengisian meningkat, selisih pengeluaran energi terhadap mobil bensin menyusut. Apabila pengguna juga harus meluangkan waktu dan menempuh perjalanan tambahan untuk mengisi daya, keuntungan praktisnya dapat semakin kecil.
Bagi penghuni apartemen atau rumah tanpa tempat parkir tetap, ketersediaan infrastruktur pengisian sering menjadi pertimbangan yang sama pentingnya dengan harga kendaraan.
Penggunaan Mobil 500, 1.000, atau 2.000 Km per Bulan: Pilih ICE atau Listrik?
Dalam perbandingan mobil ICE vs mobil listrik, intensitas penggunaan menjadi salah satu variabel paling menentukan. Semakin sering kendaraan digunakan, semakin besar kesempatan pemilik memanfaatkan biaya energi EV yang lebih rendah.
Namun, jarak tempuh tidak boleh menjadi satu-satunya pertimbangan. Masa kepemilikan, nilai jual kembali, dan akses pengisian daya dapat mengubah hasil perhitungan.
Pemakaian di Bawah 500 Km per Bulan
Untuk pengguna yang hanya berkendara sekitar 300–500 km per bulan, penghematan energi mobil listrik relatif kecil.
Pada 500 km per bulan, penghematan biaya energi dibandingkan mobil bensin yang menggunakan Pertamax hanya sekitar Rp427.000. Dalam lima tahun, akumulasinya sekitar Rp25,6 juta sebelum memperhitungkan perawatan.
Jika depresiasi mobil listrik jauh lebih tinggi, keuntungan tersebut dapat habis.
Mobil ICE yang irit, memiliki pasar bekas kuat, dan biaya servis terjangkau masih menjadi pilihan rasional bagi pengguna dengan jarak tempuh rendah.
Pemakaian 1.000–1.500 Km per Bulan
Pada jarak ini, mobil listrik mulai menunjukkan keunggulan ekonomi yang lebih nyata.
Dengan penggunaan 1.000 km per bulan, penghematan energi mencapai sekitar Rp854.000. Jika penggunaan meningkat menjadi 1.500 km, penghematan energi menjadi sekitar Rp1,28 juta per bulan.
Dalam lima tahun, akumulasi penghematan energi pada jarak 1.500 km per bulan mencapai sekitar Rp76,8 juta.
Jumlah tersebut berpotensi menutup selisih depresiasi dan biaya charger, meskipun hasil akhirnya tetap bergantung pada model kendaraan.
Pemakaian di Atas 2.000 Km per Bulan
Pada penggunaan 2.000 km per bulan, penghematan energi mencapai sekitar Rp1,71 juta. Dalam lima tahun, penghematan energi saja dapat melampaui Rp102 juta berdasarkan asumsi simulasi.
Mobil listrik semakin menarik untuk perjalanan harian yang panjang, operasional bisnis, atau kendaraan yang digunakan secara intensif.
Namun, penggunaan tinggi juga berarti akumulasi jarak tempuh besar. Kondisi baterai, ban, garansi, dan nilai jual kembali tetap harus diperhitungkan.
Depresiasi Mobil Listrik: Risiko yang Sering Diremehkan
Salah satu kelemahan dalam promosi mobil listrik adalah kecenderungan membandingkan biaya bensin dengan biaya pengisian daya tanpa menghitung penurunan nilai kendaraan.
Padahal, depresiasi dapat menjadi komponen biaya kepemilikan terbesar.
Penelitian IESR dalam Indonesia Sustainable Mobility Outlook 2025 menunjukkan bahwa mobil listrik berpotensi memiliki total biaya kepemilikan lebih rendah dibandingkan kendaraan bensin dalam sejumlah skenario. Namun, penelitian tersebut juga menyoroti ketidakpastian pasar mobil listrik bekas sebagai faktor penting.
Kajian ilmiah yang diterbitkan pada 2026 juga menemukan bahwa daya saing biaya mobil listrik di Indonesia sangat dipengaruhi jarak tempuh tahunan, kebijakan insentif, dan biaya baterai.
Artinya, tidak ada angka kilometer universal yang berlaku untuk semua mobil.
Mobil listrik dengan harga bekas stabil dapat menguntungkan pada jarak tempuh relatif rendah. Sebaliknya, mobil listrik yang mengalami penurunan nilai ekstrem mungkin membutuhkan penggunaan jauh lebih tinggi untuk menutup kerugian depresiasi.
Beralih ke Mobil Listrik atau Mempertahankan Mobil Bensin Lama?
Ada satu persoalan yang sering luput dalam perbandingan mobil ICE vs mobil listrik: membeli dua kendaraan baru dengan harga sama berbeda dari menjual mobil bensin yang sudah dimiliki untuk membeli EV.
Jika seseorang telah memiliki mobil bensin yang lunas dan masih berfungsi baik, keputusan beralih harus menghitung dana tambahan yang dikeluarkan.
Misalnya, mobil lama hanya bisa dijual Rp150 juta, sementara mobil listrik penggantinya berharga Rp300 juta. Pemilik harus menambah Rp150 juta.
Penghematan bensin sebesar Rp1 juta per bulan tidak otomatis membuat pengeluaran tambahan tersebut layak. Nilai jual kendaraan pada masa mendatang, biaya pembiayaan, serta manfaat kendaraan baru perlu ikut dihitung.
Perbandingan yang adil adalah antara biaya mempertahankan mobil lama selama beberapa tahun dan biaya membeli serta menggunakan mobil listrik selama periode yang sama.
Tanpa pendekatan tersebut, istilah hemat bisa berubah menjadi alasan untuk mengeluarkan uang lebih banyak.
Tajuk Akhir: Mobil Listrik Menguntungkan, tetapi Tidak untuk Semua Pengguna
PANDUAN KEPUTUSAN BERDASARKAN SIMULASI
| Di bawah 500 km/bulan | ICE sering lebih aman secara finansial jika depresiasi EV lebih besar. |
| 500–1.000 km/bulan | EV mulai kompetitif, tetapi sangat bergantung pada nilai jual kembali. |
| 1.000–1.500 km/bulan | EV berpotensi lebih hemat dengan charging rumah dan depresiasi terkendali. |
| Di atas 2.000 km/bulan | EV umumnya semakin menarik dari sisi biaya operasional. |
Untuk mobil ICE vs mobil listrik dengan harga beli sama, sekitar 1.000–1.500 km per bulan merupakan patokan awal yang masuk akal bagi pembeli yang mengutamakan penghematan finansial selama lima tahun.
Namun, patokan tersebut bukan batas mutlak. Dalam simulasi dengan Pertamax dan depresiasi tambahan EV Rp30 juta, titik impas bahkan bisa tercapai sekitar 614 km per bulan. Ketika mobil ICE menggunakan Pertalite, angka tersebut naik menjadi sekitar 1.103 km per bulan.
Persoalan sebenarnya bukan apakah teknologi listrik lebih modern daripada mesin bensin. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah biaya yang berhasil dihemat cukup besar untuk mengimbangi seluruh risiko kepemilikan.
Mobil listrik memang menawarkan efisiensi energi yang sulit ditandingi mesin pembakaran internal. Tetapi keputusan membeli kendaraan tetap harus berangkat dari kebutuhan, bukan sekadar tren teknologi atau klaim penghematan yang hanya menghitung biaya energi.
Bagi konsumen, kendaraan paling ekonomis bukan selalu yang paling murah diisi energinya. Kendaraan paling ekonomis adalah yang memiliki total biaya kepemilikan paling rendah selama benar-benar digunakan.
Referensi
PT PLN (Persero). Tarif Triwulan IV 2026 Tetap, PLN Jaga Pertumbuhan Ekonomi Masyarakat Indonesia. https://www.pln.co.id/tarif-listrik-triwulan-iv-2026-tetap
Kompas.com. Daftar Tarif Listrik PLN November 2026 Berdasarkan Golongan Daya. https://amp.kompas.com/tren/read/2026/10/29/060000465/daftar-tarif-listrik-pln-november-2026-berdasarkan-golongan-daya-cek-di
detikOto. Daftar Harga BBM Pertamina dan Swasta per 1 November 2026. https://oto.detik.com/berita/d-8733198/daftar-harga-bbm-pertamina-dan-swasta-per-1-november-2026
Institute for Essential Services Reform (IESR). Indonesia Sustainable Mobility Outlook 2025. https://iesr.or.id/wp-content/uploads/2025/07/Indonesia-Sustainable-Mobility-Outlook-2025-IESR-2.pdf
Putra, R. P. M., Csereklyei, Z., dan Meegahapola, L. (2026). Cost-competitiveness of battery electric vehicles and two-wheelers: Evidence from Indonesia. Transportation Research Part D: Transport and Environment. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1361920926001756
GAIKINDO. Pasar Mobil Bekas Kebanyakan dari Model Konvensional dan Hybrid. https://www.gaikindo.or.id/pasar-mobil-bekas-kebanyakan-dari-model-konvensional-dan-hybrid/
